Senin, 29 April 2013

panutan kita

TAUSYIAH GURU MULIA AL-HABIB
UMAR BIN HAFIDZ JALINLAH IKATAN SUCI DENGAN KAUM
SHOLIHIN Janganlah kalian menyia-nyiakan
persahabatan dengan orang
mulia, yaitu orang-orang yang
mempunyai kedudukan tinggi di
sisi Allah Ta’ala dan RasulNya.
Mereka adalah orang-orang yang cahayanya berkilauan. Sinarnya
bergemerlapan. Demi Allah ….
memisahkan diri dari mereka
merupakan suatu kerugian yang
sangat besar. Tidakkah kalain fikir, kerugian
tersebut disebutkan oleh
pemimpin dari segala pemimpin,
iaitu Baginda Nabi Muhammad ﻰﻠﺻ
ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ. Rasulullah ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ telah bersabda (maksudnya): Celakalah
bagi orang yang tidak melihatku
pada hari qiamat. Sesungguhnya orang yang tidak
melihat kaum sholihin tidak akan
bisa melihat Nabi Muhammad ﻰﻠﺻ
ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ. Orang yang tidak memandang mereka, tidak
akan bisa memandang Nabi
Muhammad ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳﻭ. Dan orang yang tidak
menjalin hubungan dengan
mereka tidak akan bisa
berhubungan dengan Nabi
Muhammad ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳﻭ. Ketahuilah, bahwa kaum sholihin
adalah bagian dari Nabi
Muhammad ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳﻭ. Mereka adalah pewaris
Nabi Muhammad ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻟﺁﻭ. Mereka adalah khalifah Nabi Muhammad ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ. Mereka adalah pemegang sirr Baginda Nabi
Muhammad ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳﻭ. Mereka adalah pemegang
sirr setelah kewafatan Nabi
Muhammad ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳﻭ. Mereka adalah pewaris kerahasia
an-Nabawiyyah sepeninggal
Rasulullah ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳﻭ. Mereka adalah semulia-
mulia perwaris Rasulullah ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ. Di antara mereka adalah al-Imam al-Habib ‘Abdullah
bin ‘Alwi bin Muhammad al-
Haddad ﻪﻨﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻲﺿﺭ yang telah disifatkan oleh al-Imam al-Habib
‘Ali bin Muhammad bin Hussin al-
Habsyi ﻪﻨﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻲﺿﺭ dalam bait qashidah beliau: “Karenanya
(Imam al-Haddad) sejuklah hati
Nabi Muhammad ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻟﺁﻭ. Bagi Baginda ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋia adalah sebaik- baik keturunannya. Panutan bagi
pengikut. Ka’abah (qiblat) bagi
orang yang meniti jalan
kebenaran dan merupakan
kebanggaan bagi penduduk
negerinya. Nasihat-nasihatnya menebarkan ilmu pengetahuan.
Kasih-sayangnya meliputi semua
umat. Darinya, mereka mengambil
manfa’at dengan sebaik-baik
manfa’at.” Dalam kesempatan lain, al-Imam
al-Habib ‘Ali bin Muhammad bin
Hussin al-Habsyi ﻪﻨﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻲﺿﺭ menyifatkan al-Imam al-Habib
‘Abdullah bin ‘Alwi bin
Muhammad al-Haddad ﻪﻠﻟﺍ ﻲﺿﺭ ﻪﻨﻋ dalam untaian syairnya yang
begitu indah. Al-Habib ‘Ali
mengatakan: “Dialah cucu Nabi
ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ yang bersambung nasabnya dengan
orang-orang mulia yang
kemuliaan mereka dikenal oleh
para pejuang dan pemberani.
Dialah penyalur asrar dan ilmu
kepada keluarga, keturunan, penduduk negerinya, bahkan
kepada umat generasi
sesudahnya. Maka semua yang
bersuluk dengannya akan
bersinar dengan cahaya kilau
yang terang benderang.” Cahaya ini tak akan padam dan
tak akan sirna. Mengapa? Sebab,
Allah Ta’ala lah yang
menyalakannya! Itulah sebabnya
cahayanya terus bersinar dan
kian memancar. Siapakah yang mampu memadamkan cahaya
yang telah dinyalakan oleh Allah
Ta’ala? Demi Allah! Cahaya itu
tidak akan padam dan takkan
pernah sirna selamanya, Allah
Ta’ala yang menjaganya. Namun sungguh menyedihkan, di
antara kita (yakni para
‘Alawiyyin dan keturunan
Rasulullah ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳﻭ) terdapat orang-orang
yang terhalang dari cahaya itu.
Mereka adalah orang-orang yang
enggan masuk ke dalam golongan
itu. Bahkan sangat disayangkan,
justru mereka masuk ke dalam kelompok lain. al-Imam al-Habib
‘Ali bin Muhammad bin Hussin al-
Habsyi ﻪﻨﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻲﺿﺭ berkata: “Siapa tidak menempuh jalan
leluhurnya pasti akan bingung
dan tersesat. Wahai anak-cucu
Nabi ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ tempuhilah jalan mereka, setapak
demi setapak dan jauhi segala
bid’ah.” Siapakah yang lebih mengenal
Allah Ta’ala dibandingkan para
kaum ‘arifin? Siapakah yang
lebih mengetahui hakikat Rabbul
‘Alamin dibandingkan dengan
imam-imam kita? Siapakah yang lebih mengenal Rasulullah ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ dibanding mereka? Selain mereka, kepada
siapa kita akan bercermin?
Kepada siapa kita akan
berteladan? Wahai hamba-hamba Allah,
pelajarilah riwayat hidup kaum
sholihin. Jalinlah persaudaraan
dan kasih-sayang diantara kalain.
Jangan kalian bercerai berai.
Bersiap-siaplah menolong jalan mereka. Demi Allah! Jalan mereka
tersebar, bendera mereka
berkibar. Bukan di negara kalian
saja, namun diseluruh penjuru
dunia. Di belahan dunia, timur
maupun barat. Bagi masyarakat ‘Arab maupun ‘Ajam
(non-‘Arab). Baik di Jaziarah
‘Arab, Amerika, Eropah, Rusia,
Asia, China ataupun Indonesia ini. Di sana bendera keluarga al-Imam
al-Habib ‘Alwi bin ‘Ubaidullah bin
Ahmad al-Muhajir ﻪﻨﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻲﺿﺭ telah berkibar. Di segala penjuru,
bendera keluarga al-Faqih al-
Muqaddam Muhammad bin ‘Ali
Ba’Alawi ﻪﻨﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻲﺿﺭ telah berkibar. Di setiap wilayah, kita
pasti akan melihat bendera ahli
thariqah ini (yakni thariqah
‘Alawiyyah). Mereka memiliki para
tentara dan penolong yang
berkedudukan tinggi disisiNya. Namun saat ini, di antara para
tentara dan penolong itu ada
yang tidur, bahkan mereka
nyenyak dalam tidurnya. Ada di
antara mereka yang hanya
duduk berpangku tangan (berpeluk tubuh) dan terus
duduk saja. Cukuplah wahai saudaraku! Sudah
banyak kita melihat orang-orang
yang terlambat dan tertinggal.
Bangkitlah wahai saudaraku!
Sampai kapan kalian akan tidur?
Sampai kapan kalian akan terus berpeluk tubuh? Amatilah! Apakah
perjalanan hidup mereka telah
diterapkan dirumah-rumah
kalian? Apakah mereka sudah
menjadi teladan dalam keluarga
kalian? Apakah mereka telah menjadi panutan bagi anak dan
isteri kalian? Bagaimana kalian ini? Kalian
mengaku cinta dan memiliki ikatan
dengan mereka, namun di rumah
kalian setiap harinya yang
terdengar hanyalah berita
mengenai orang-orang kafir. Hanya menyimak khabar dari
orang-orang fasiq dan gossip
para bintang filem?????!!!!
Setahun penuh tidak pernah ada
berita mengenai salaf!!! Apakah ini
yang disebut cinta????? Apakah ini yang dikatakan memiliki ikatan
kekeluargaan???? Jubah Sayyidatuna Fathimah az-
Zahra ﻡﻼﺴﻟﺍ ﺎﻬﻴﻠﻋ Sungguh ironis sekali!!!! Saat ini
sinetron, orang-orang fasiq dan
orang-orang kafir lah yang
mendidik anak-anak kita.
Pemandangan itu yang menjadi
hiasan dalam keluarga kita. Betapa banyak anak perempuan
kita yang meniru wanita-wanita
fasiq di TV, baik dari cara
berpakaian, cara bergaul dan
sebagainya. Sehingga mereka
tidak mengenal lagi siapa Fathimah az-Zahra ﻡﻼﺴﻟﺍ ﺎﻬﻴﻠﻋ. Siapakh beliau? Bagaimana
biografi beliau? Seperti apa
pakaian beliau? Bagaimana
kezuhudannya? Bagaimana
ibadahnya? Saat ini mereka tidak
lagi mengenal puteri-puteri Nabi Muhammad ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳﻭ. Mereka tidak tahu siapa
itu Zainab, Ummu Kultsum,
Ruqayyah. Mereka juga tidak
tahu isteri-isteri Rasulullah ﻰﻠﺻ
ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ. Mereka tidak lagi mengenal siapa itu
Khadijah binti Khuwailid ﺎﻬﻴﻠﻋ
ﻡﻼﺴﻟﺍ, ‘Aisyah ash-Shiddiqah
ﻡﻼﺴﻟﺍ ﺎﻬﻴﻠﻋ dan lain- lain.Bagaimana ini bisa terjadi?
Wahai para kepala keluarga!
Bagaimana kalian mendidik anak-
anak kalian? Dengan figur siapa
kalian memberikan contoh kepada
puteri-puterimu? Apakah kalian berniat
menggantikan Rasulullah ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ dengan mereka? Teladan apakah yang telah kalian
berikan kepada keluarga dan
anak-anak kalian? Kalian meniru
orang-orang durhaka, padahal
kalian adalah mu’min.
sesungguhnya kalian telah memiliki kebesaran, kebanggan
dan kemuliaan. Namun mengapa
kebesaran, kebanggaan serta
kemuliaan itu kalian tukar dengan
orang-orang yang jauh dari Allah
dan RasulNya Sungguh, kalian telah
menggantikan teladan yang telah
diridloi Allah Ta’ala dan RasulNya
untuk kalian. Apakah kalian lupa
akan firman Allah Ta’ala di dalam
al-Quran: ٌﺓَﻮْﺳُﺃ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻝﻮُﺳَﺭ ﻲِﻓ ْﻢُﻜَﻟ َﻥﺎَﻛ ْﺪَﻘَّﻟ
ٌﺔَﻨَﺴَﺣ
Artinya: Demi sesungguhnya,
adalah bagi kamu pada diri
Rasulullah itu contoh ikutan yang
baik (Surah al-Ahzab: 21) Wahai saudaraku, tanamlah dalam
hatimu untuk berubah dari semua
ini. Kembalilah pada jalan yang
telah diteladankan oleh Rasulullah
ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻟﺁﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ. Dalam buku catatan ‘amal kita tertulis
kata-kata yang tidak patut,
pandangan yang tidak layak, dan
niat yang tidak pantas
(selayaknya). Jikalau demikian,
maka siapakah yang akan menghapuskannya? Bertaubatlah
kepada Allah Ta’ala, kerana
Dialah yang menerima segala
taubat dari hamba-hambaNya dan
Dialah yang memaafkan segala
kesalahan-kesalahan para hambaNya. Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar