Senin, 22 April 2013

semuga cintaku tetap pada beliau

IMAM Al – FAQIH AL - MUQADDAM
MUHAMMAD BIN ALI.
Nasab Al-Faqih Al-Muqaddam Al-
Imam Muhammad bin Ali Ba ‘Alawi
ra Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-
Muqaddam muhammad bin
Sayyidina Ali bin Sayyidina Al-Imam
Muhammad Shohib Marbath bin
Sayyidina Al-Imam Kholi’ Qosam
bin Sayyidina Alwi bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib As-
Shouma’ah bin Sayyidina Al-Imam
Alwi Shohib Saml bin Sayyidina Al-
Imam Ubaidillah Shohibul Aradh bin
Sayyidina Al-Imam Muhajir Ahmad
bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi bin Sayyidina Al- Imam Muhammad
An-Naqib bin Sayyidina Al-Imam Ali
Al-Uraydhi bin Sayyidina Al-Imam
Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina
Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin
Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Al-Imam As-Syahid
Syababul Jannah Sayyidina Al-
Husein. Rodiyallahu ‘Anhum
Ajma’in. Beliau adalah bapak dari semua
keluarga Alawiyin, keindahan
kaum muslimin dan agama Islam,
batinnya selalu dalam kejernihan
yang ma'qul dan penghimpun
kebenaran yang manqul, mustanbituhl furu' minal ushul,
perumus cabang-cabang hukum
syara', yang digali dari pokok-
pokok ilmu fiqih, syaikh syuyukhis
syari'ah (maha guru ilmu syari'ah),
imamul ahlil hakikat (pemimpin para ahli hakikat), sayidul thoifah
ash-shufiyah (penghulu kaum sufi)
, murakidz dairatul wilayah ar-
rabbaniyah, Qudwatul Ulama al-
Muhaqqiqin (panutan para ulama
ahli ilmu hakikat), tajul a'imah al- arifin (mahkota para imam ahli
ma'rifat), jamiul kamalat (yang
terhimpun padanya semua
kesempurnaan). Yang pertama kali dijuluki 'al-
Faqih al-Muqaddam' adalah
waliyullah Muhammad bin Ali bin
Muhammad Shahib Marbath. Soal
gelar yang disandangnya, karena
waliyullah Muhammad bin Ali seorang guru besar yang
menguasai banyak sekali ilmu-ilmu
agama diantaranya ilmu fiqih.
Salah seorang guru beliau Ali
Bamarwan mengatakan, bahwa
beliau menguasai ilmu fiqih sebagaimana yang dikuasai
seorang ulama besar yaitu al-
Allamah Muhammad bin Hasan bin
Furak al-Syafi'i', wafat tahun 406
Hijriah. Sedangkan gelar al-
Muqaddam di depan gelar al-Faqih yang berasal dari kata Qadam
yang berarti lebih diutamakan,
dalam hal ini waliyullah Muhammad
bin Ali sewaktu hidupnya selalu
diutamakan sampai setelah beliau
wafat maqamnya yang berada di Zanbal Tarim sering diziarahi
kaum muslimin sebelum menziarahi
maqam waliyullah lainnya.
Waliyullah Muhammad bin Ali
dilahirkan di kota Tarim, beliau
anak laki satu-satunya dari Imam Ali bin Muhammad Shahib Marbat
yang menurunkan 75 leluhur
kaum Alawiyin, sedangkan Imam
Alwi bin Muhammad Shahib
Marbath menurunkan 16 leluhur
Alawiyin. Sayyid Muhammad bin Ali yang terkenal dengan nama al-
Faqih al-Muqaddam ialah sesepuh
semua kaum Alawiyin. Beliau
dilahirkan pada tahun 574 H di
Tarim. Beliau seorang yang hafal
al-quran dan selalu sibuk menuntut berbagai macam
cabang ilmu pengetahuan agama
hingga mencapai tingkat sebagai
mujtahid mutlak. Mengenai Imam
al-Faqih al-Muqaddam Muhammad
bin Ali, Sayyid Idrus bin Umar al- Habsyi dalam kitabnya Iqdul
Yawaqiet al-Jauhariyah
mengatakan: " Dari keistimewaan
yang ada pada Sayyidina al-Faqih
al-Muqaddam adalah tidak suka
menonjolkan diri, lahir dan batinnya dalam kejernihan yang
ma'qul (semua karya pemikiran)
dan penghimpun kebenaran yang
manqul (nash-nash Alquran dan
Sunnah). Penulis buku al-Masyra'
al-Rawy berkata: "Beliau adalah seorang mustanbith al-furu' min
al-ushul (ahli merumuskan
cabang-cabang hukum syara'
yang digali dari pokok-pokok ilmu
fiqih. Ia adalah Syaikh Syuyukh al-
syari'ah (mahaguru ilmu syari'ah) dan seorang Imam ahli hakikat,
Murakiz Dairah al-Wilayah al-
Rabbaniyah, Qudwah al-'Ulama al-
Muhaqqiqin (panutan para ulama
ahli ilmu hakikat),Taj al-A'imah
al-'Arifin (mahkota para Imam ahli ma'rifat) dan dalam segala
kesempurnaannya beliau
berteladan kepada Amir al-
Mukminin (Imam Ali bin Abi Thalib).
Thariqahnya adalah kefakiran
yang hakiki dan kema'rifatan yang fitrah." Selain dikenal sebagai ulama yang
ketinggian ilmunya diakui oleh
para Ulama Hadramaut. Beliau
juga terkenal sebagai dermawan
yang suka memperhatikan nasib
rakyat miskin. Setiap hari di bulan Ramadhan, rumahnya selalu ramai
oleh antrian faqir miskin yang
menanti pembagian sedekah
kurma.
Di rumahnya memang selalu
tersedia kurma khusus untuk menyimpan 360 guci penuh
kurma, setiap hari dibagikan satu
guci kurma, sehingga dalam
setahun habis 360 guci. Kurma itu
adalah hasil kebun yang memang
khusus untuk faqir miskin. Tak mengherankan jika namanya
cukup harum di kalangan
masyarakat Tarim, ibu kota
Hadramaut kala itu. Apalagi beliau
juga dikenal sebagai Al-‘Arif
billah, Ulama besar, pemuka para Imam dan Guru, suri teladan bagi
Al-‘Arifin, penunjuk jalan bagi As-
Salikin, Imam bagi Tarekat
Alawiyah, yang mendapatkan
kewalian dan Karamah luar biasa,
yang mempunyai jiwa bersih. Beliau adalah Habib Muhammad bin
Ali bin Muhammad Shahib Mirbath
atau yang lebih dikenal dengan
sebutan Al-Faqih Al-Muqaddam,
Ahli Fiqih yang unggul. Beliau
adalah sosok ulama yang mendapat keistimewaan dari Allah
SWT, sehingga mampu menyingkap
rahasia ayat-ayatnya. Allah SWT
juga memberinya kemampuan
untuk menguasai berbagai macam
ilmu, baik lahir maupun batin. Imam Muhammad bin Ali adalah
penutup para wali yang mewarisi
maqom Rasulullah saw, yaitu
maqom qutbiyah al-kubro (wali
quthub besar). Beliau lahir tahun
574/1154 M di kota Tarim, dididik dengan didikan Tuhannya, hafal
alquran, menguasai makna yang
tersurat maupun makna yang
tersirat dari alquran. Di masa remaja, beliau menuntut
ilmu kepada para ulama besar,
antara lain: • Al-Allamah Al-Faqih Abul Hasan
Ali bin Ahmad bin Salim Marwan Al-
Hadhrami, seorang guru yang
agung, pemuka para ulama besar
di Tarim
• Al-Faqih Asy-Syekh Salim bin Fadl
• Imam Al-Faqih Abdullah bin
Abdurrahman bin Abu Ubaid,
pengarang kitab Al-Ikmal ‘alat
Tanbih.
Kecerdasannya sudah tampak sejak masa kanak-kanak,
sehingga beliau sering mendapat
perhatian lebih dari guru-
gurunya. Salah seorang gurunya,
Al- Imam Abdullah bin
Abdurrahman, hanya akan memulai pelajaran jika muridnya
yang istimewa itu sudah hadir.
Selain itu, beliau juga belajar
kepada beberapa Ulama besar
yang lain, seperti: • Al-Qadhi Al-Faqih Ahmad bin
Muhammad Ba’Isa
• Al-Imam Muhammad bin Ahmad
binAbul Hubbi
• Asy-Syekh Sufyan Al-Yamani
• As-Sayid Al-Imam Al-Hafidz Ali bin Muhammad bin Jadid
• As-Sayid Al-Imam Salim bin Basri
• Asy-Syekh Muhammad bin Al-
Khatib
• pamannya sendiri As-Sayid Alwi
bin Muhammad Shahib Mirbath Imam Muhammad bin Ali belajar
fiqih Syafii kepada Syaikh Abdullah
bin Abdurahman Ba'abid dan
Syaikh Ahmad bin Muhammad
Ba'Isa, belajar ilmu ushul dan ilmu
logika kepada Imam Ali bin Ahmad Bamarwan dan Imam Muhammad
bin Ahmad bin Abilhib, belajar ilmu
tafsir dan hadits kepada seorang
mujtahid bernama Sayid Ali bin
Muhammad Bajadid, belajar ilmu
tasawuf dan hakikat kepada Imam Salim bin Basri, Syaikh
Muhammad bin Ali al-Khatib dan
pamannya Syaikh Alwi bin
Muhammad Shahib Marbath serta
Syaikh Sufyan al-Yamani yang
berkunjung ke Hadramaut dan tinggal di kota Tarim. Dalam mengambil sanad keilmuan
dan tarekat, beliau mengambil
dari dua jalur: • Jalur pertama dari orang tua
dan pamannya, sementara orang
tua dan pamannya mengambil dari
kakeknya, dan terus
menyambung, akhirnya sampai
kepada Rasulullah SAW. • Jalur kedua dari seorang ulama
besar pemuka sufi, Syeikh Abu
Madyan Syu’aib, melalui dua
muridnya, yaitu Abdurrahman Al-
Maq’ad Al-Maghribi dan Abdullah
Ash-Shaleh Al-Maghribi. Syekh Abu Madyan mengambil dari gurunya,
gurunya mengambil guru
sebelumnya, dan terus sambung
menyambung, akhirnya sampai
kepada Rasulullah SAW. Masa mudanya beliau jalani
dengan penuh kesungguhan
untuk mencari segala hal yang
dapat mendekatkan diri kepada
Allah SWT. Beliau berpegang pada
Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, serta mengikuti jejak para
sahabat dan para salafus
shalihiin, ulama klasik yang sholeh.
Dengan mujahadah, ikhtiar, yang
cukup keras, beliau berhasil
memperoleh akhlaq mulia dan menghiasinya dengan adab-adab
yang sesuai dengan Syari’at.
Sebagian besar waktunya, beliau
habiskan untuk menuntut ilmu,
sehingga dalam waktu yang
relative singkat, beliau sudah mengungguli beberapa ulama
yang juga mengakuinya. Mereka
juga mengakui kemampuannya
untuk menjadi Imam. Dengan usaha yang keras, dalam
usia yang relatif muda,
kemampuan tarekatnya sudah
mencapai peringkat Al-Arif billah.
Hanya karena kuasa Allah SWT
yang berkenan mengarunia kekuatan dan keyakinanlah,
beliau dapat memperoleh
kekhususan yang tidak
didapatkan para wali qutub,
tokoh wali, yang lainnya.
Boleh dikata, sedetikpun hatinya tidak pernah kosong dalam
berhubungan dengan Allah SWT.
Sosoknya penuh dengan sikap
tawadlu’ dan menyukai
ketertutupan, tidak pernah
pamer. Suatu ketika beliau berkirim surat kepada seorang
pemuka sufi bernama Syekh
Sa’ad bin Ali Adz-Dzafari. Setelah
membacanya, Syekh Sa’ad
terkagum-kagum karena
merasakan asrar, rahasia kewalian dan anwar, cahaya
kewalian, didalamnya.
Dalam jawabannya, Syekh Sa’ad
antara lain menulis:
“Wahai Faqih, orang yang diberi
karunia oleh Allah SWT yang tidak dipunyai oleh siapapun, engkau
adalah orang yang paling
mengerti syariat dan hakikat,
baik yang lahir maupun yang
batin.” Di antara sikap tawadhu'nya, ia
tidak mengarang kitab-kitab
yang besar akan tetapi ia hanya
mengarang dua buah kitab yang
berisi uraian yang ringkas. Kitab
tersebut berjudul Bada'ia Ulum al- Mukasysyafah dan Ghoroib al-
Musyahadat wa al-Tajalliyat.
Kedua kitab tersebut dikirimkan
kepada salah seorang gurunya
Syaikh Sa'adudin bin Ali al-Zhufari
yang wafat di Sihir tahun 607 hijriyah. Setelah melihat dan
membacanya ia merasa takjub
atas pemikiran dan kefasihan
kalam Imam Muhammad bin Ali.
Kemudian surat tersebut dibalas
dengan menyebutkan di akhir tulisan suratnya: "Engkau wahai
Imam, adalah pemberi petunjuk
bagi yang membutuhkannya".
Imam Muhammad bin Ali pernah
ditanya tentang 300 macam
masalah dari berbagai macam ilmu, maka beliau menjawab
semua masalah tersebut dengan
sebaik-baiknya jawaban dan
terurai. Rumah beliau merupakan tempat
berlindung bagi para anak yatim,
kaum faqir dan para janda. Jika
rumah beliau kedatangan tamu,
maka ia menyambut dan
menyediakan makanan yang banyak, dimana makanan
tersebut tersedia hanya dengan
mengangkat tangan beliau dan
para tamu untuk berdoa dan
meminta kepada Allah swt.
Sebagaimana Sabda Rasulullah saw: "Sesungguhnya para
saudaraku jika ia mengangkat
tangannya untuk meminta
makanan, maka akan tersedia
makanan tersebut dalam jumlah
yang banyak". Di zamannya, beliau banyak
menghasilkan Ulama besar. Dan
yang paling utama adalah: • Syekh Abdullah bin Muhammad
‘Ibad dan Syekh Sa’id bin Umar
Balhaf.
• Syekh Al-Kabir Abdullah
Baqushai
• Syekh Abdurrahman bin Muhammad ‘Ibad’
• Syekh Ali bin Muhammad Al-
Khatib
• dan saudaranya, Syekh Ahmad;
Syekh Sa’ad bin Abdullah Akdar
. Imam Muhammad bin Ali al-Faqih
al-Muqaddam berdoa untuk para
keturunannya agar selalu
menempuh perjalanan yang baik,
jiwanya tidak dikuasai oleh
kezaliman yang akan menghinakannya serta tidak ada
satupun dari anak cucunya yang
meninggal kecuali dalam keadaan
mastur (kewalian yang
tersembunyi).
Beliau seorang yang gemar bersedekah, setiap hari beliau
memberi sedekah sebanyak dua
ribu ratl kurma kepada yang
membutuhkannya,
memberdayakan tanah
pertaniannya untuk kemaslahatan umum. Beliau juga
menjadikan isterinya Zainab
Ummul Fuqoro sebagi khalifah
beliau. Imam Muhammad bin Ali
wafat tahun 653 H /1233 M dan
dimakamkan di Zanbal, Tarim pada malam Jum'at akhir bulan
Dzulhijjah.
Beliau meninggalkan lima anak :
Alwi, Abdullah, Abdurrahman,
Ahmad dan Ali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar