Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra
ra
Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra
ra putri Rasulullah saw; beliau
adalah Al-Batul ( yang hidup
hanya untuk beribadah ), wewangian Rasulullah saw,
ibundanya Sayyidatuna Khadijah
binti Khuwailid Ummul Mukminin
istri Rasulullah saw mengandung
beliau saat berusia 50 tahun;
beliau merupakan putri ke empat Rasulullah saw.
Beliau adalah anak Rasulullah saw
yang hidup paling akhir, karena
itulah beliau dapat menyaksikan
wafatnya Rasulullah saw; dan
beliau adalah orang yang pertama kali menyusul wafatnya
Rasulullah saw. Rasulullah saw amat gembira
sekali dengan kelahiran
Sayyidatuna Fathimah ra yang
merupakan pembawa kabar
gembira dan nasib baik yaitu
pada hari orang-orang Quraisy merampungkan pembangunan
Baitul Haram dan masing-masing
pemuka Quraisy ingin mendapat
kehormatan meletakkan Hajar
Aswad di tempat asalnya.
Terjadilah perselisihan diantara mereka dan nyaris terjadi saling
membunuh di antara mereka.
Kemudian mereka sepakat untuk
menjadikan hakim diantara orang
yang lebih dahulu masuk masjid.
Ternyata orang yang pertama kali masuk masjid adalah
Muhammad Rasulullah saw; maka
mereka berkata :
“Ini adalah Muhammad Al-Amin
( yang sangat dipercaya ).
Sungguh kami rela dia bertindak sebagai hakim pemutus perkara”
Ketika Muhammad Raulullah saw
mengetahui sebab terjadinya
perselisihan diantara mereka,
maka baeliau berkata :
“Letakkan Hajar Aswad itu di atas pakaian ini”.
Lalu beliau membentangkan
pakaiannya. Mereka pun
melakukannya. Kemudian beliau
berkata ;
“Saya minta masing-masing para pimpinan kabilah memegang ujung
pakaian ini, dan angkatlah Hajar
Aswad ini bersama-sama”. Maka merekapun melakukannya,
lalu beliau mengambil Hajar Aswad
ketika mereka sudah
mengangkatnya dan beliau
letakkan di tempatnya; dan
keputusan ini tidak ada yang menentang beliau dan padamlah
perselisihan mereka. Kemudian
Rasulullah saw pulang ke
rumahnya dan beliau mendapati
istrinya Sayyidatuna Khadijah
telah melahirkan Sayyidatuna Fathimah, timbul rasa gembira
dan bahagia luar biasa dengan
kelahiran putrinya ini. Beliau
memberi nama Fathimah ( yang
menyapih ) dengan harapan agar
kelak ia menjadi seorang ibu serta bisa menyapih anak-
anaknya,. Sayyidatuna Fathimah tumbuh
dewasa di dalam naungan
dakwah, beriman kepada Allah
dan Rasulnya, hidup di sisi
Rasulullah saw dengan terus
membantu beliau, mengawasi beliau dan memperhatikan
penentangan, kebencian dan
perlakuan buruk orang-orang
Quraisy terhadap Rasulullah saw.
Beliau selalu berusaha menolong
ayahnya, bersikap tabah dan terus membelanya. Dan tatkala ibundanya
Sayyidatuna Khadijah ra wafat,
maka menjadi berlipat gandalah
beban berat hidupnya; karena itu
beliau mendapat sebutan “Ummu
Abiha” ( ibu bagi ayahnya ). Ketika seorang kafir Quraisy
bernama Uqbah bin Mu’aith
meletakkan isi perut kambing
diatas kepala Rasulullah saw yang
sedang sujud di bawah naungan
Ka’bah; dengan cepat Sayyidatuna Fathimah
menyingkirkannya dari kepala
beliau dan mencaci maki Uqbah
serta menantang sikap kasar dan
kesombongannya. Sayyidatuna Fathimah telah ikut
serta mengalami peristiwa-
peristiwa kerasulan, hidup
mengiringi masa-masa kerasulan,
ikut merasakan besarnya beban
berat yang harus dipikul Nabi saw dan beliau bersabar menghadapi
pahit getirnya penderitaan itu.
Beliau merasa sedih sekali dan
menangis melihat apa yang telah
menimpa Nabi saw. Rasulullah
selalu menenangkan kegelisahan puterinya, menghilangkan
kesusahannya dan memberinya
kabar gembira akan datangnya
pertolongan Allah swt. Saat terjadi peristiwa
pemblokadean keluarga Rasulullah
saw oleh orang-orang kafir
Quraisy di sebuah bukit;
Sayyidatuna Fathimah jatuh sakit
dan ibundanya Sayyidatuna Khadijah sangat menghawatirkan
kondisi anak perempuannya yang
masih kecil itu. Semua keluarga
Rasulullah saw ikut menderita
akibat blokade orang-orang kafir
Quraisy. Sayyidatuna Khadijah sendiri
terserang penyakit berat dan
merasakan ajalnya sudah dekat.
Ketika Sayyidatuna Khadijah
wafat, Rasulullah saw merasakan
duka dan pahitnya perpisahan dengan seorang wanita yang
amat agung, yang telah memberi
keteguhan hati beliau, memberi
motivasi serta pertolongan
kepada beliau. Ketika Rasulullah saw terluka
dalam perang Uhud; Sayyidatuna
Fathimah ra segera mendekati
ayahnya dan melihat wajahnya
yang mulia bercucuran darah,
beliau pun memberikan pertolongan dan mencoba
menghentikan darah yang keluar
dengan ke dua tangannya, namun
tidak berhasil. Sementara
Sayyidina Ali bin Abu Thalib
menuangkan air ke wajah Nabi saw, namun darah tetap keluar.
Maka beliau mengambil potongan
tikar yang sudah lama dan
membakarnya. Setelah menjadi
abu, maka abu tersebut beliau
tempelkan ketempat luka Rasulullah saw, hingga darah
tersebut menjadi tertahan dan
berhenti ( HR. Buhhari, Muslim,
Ibnu Majah dan Ahmad ) Sayyidina Ali bin Abu Thalib
meminang Sayyidatuna Fathimah
ra. Diriwayatkan dari Abdillah bin
Buraidah dari ayahnya bahwa ia
pernah berkata : Sayyidina Abu
Bakar dan Sayyidina Umar pernah
meminang Sayyidatuna Fathimah,
maka Rasulullah saw bersabda :”Sesungguhnya ia
masih kecil”. Kemudian Sayyidina
Ali ra meminangnya, maka
Rasulllah saw menikahkan
Sayyidatuna Fathimah dengannya.
Diriwayatkan dari Imam Thabroni bahwa Rasullah bersabda : ﺝّﻭﺯﺃ ﻥﺃ ﻲﻧﺮﻣﺃ ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻪّﻠﻟﺍ ّﻥﺇ
ﻩﺍﻭﺭ ) .ّﻲﻠﻋ ﻦﻣ ﺔﻤﻃﺎﻓ
ﻲﻧﺍﺮﺒﻄﻟﺍ )
“Sesungguhnya Allah swt telah
memerintahkan kepadaku agar
menikahkan Fathimah dengan Ali”. Sayyidina Ali telah menyiapkan
sebuah rumah sebagai tempat
untuk menyambut calon istrinya.
Putra-putri Bani Abdul Muthallib
sangat merasa gembira sekali
sebagaimana kebahagiaan itu meliputi para sahabat Anshar dan
Muhajirin.
Telah diriwayatkan dari Atho’ bin
As Sa’ib dari ayahnya dari
Sayyidina Ali ra, bahwa beliau
berkata : “Rasulullah saw telah memberi
perlengkapan kepada Fathimah
berupa khomil ( kain beludru yang
terbuat dari kapas ), geriba
( tempat minum dari kulit ) dan
bantal yang berisi rumput idzkir ( sejenis rumput yang basah dan
berbau harum ). Dalam riwayat lain dari Sayyidina
Ali ra, bahwasanya ketika
Rasulullah saw mengawinkan
dirinya dengan Sayyidatuna
Fathimah, maka beliau membekali
Sayyidatuna Fathimah dengan Khomilah ( kain beludru ), bantal
yang berisi sabut, dua alat
penggiling, siqo’ ( wadah air dari
kulit ) dan dua tempayan air. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra
bahwa beliau berkata:
“Ketika Rasulullah saw,
menikahkan Sayyidatuna
Fathimah dengan Sayyidina Ali,
maka sesuatu yang dihadiahkan Rasulullah kepada Fathiimah
adalah ranjang tempat tidur yang
diikat dengan tali yang terbuat
dari daun kurma dan bantal yang
berisi sabut, serta geriba.
Ibnu Abbas berkata lagi : “Orang- orang datang membawa kerikil
pasir, kemudian mereka letakkan
merata di dalam rumah pengantin
( Hadits ).
Demikianlan pernikahan
berlangsung dengan biaya relative sedikit serta ongkos
yang amat murah, dan terlaksana
dengan penuh keramahan,
kemudahan serta penuh
kebaikan. Kehidupan Sayyidatuna Fathimah
ra di rumah suaminya. Sayyidina Ali Kw adalah seorang
faqir yang tidak memiliki apa-apa.
Kehidupan dirinya bersama
Sayyidatuna Fathimah ra dalam
keadaan serba sulit. Keadaan
tubuh Sayyidatuna Fathimah yang lemah akibat penderitaan beliau
yang pernah dialami ketika
terjadi pemblokadean kaum
muslimin dibukit berupa kelaparan
dan embargo ekonomi. Dan
setelah bebas dari pemblokadean, Sayyidatuna fathimah
menanggung penderitaan dan
kepayahan hidup serta ikut
bersama Nabi saw, menanggung
perlakuan jahat orang-orang
kafir Quraisy. Beliau hijrah ke kota Madinah dalam keadaan
kedua kaki berdarah dan tinggal
di rumah suaminya Sayyidina Ali
kw yang alim dan wara’, seorang
mujtahid yang dalam
keterpaksaannya ia tidak pernah dapat menjamin untuk bisa makan
pagi atau sore, maka
Sayyidatuna Fathimah pun
mengikuti suaminya dengan rela
sepenuhnya. Sayyidina Ali kw selalu membantu
pekerjaan istrinya semampunya,
karena beliau tidak mampu
membayar seorang pelayan yang
dapat membantu tugas istrinya.
Diriwayatkan dari Sayyidina Ali kw, bahwa beliau pernah berkata
kepada Ibnu Ummi Abd :
“Maukah Kuceritakan kepadamu
tentang diriku bersama putri
Rasulullah saw, ia adalah keluarga
Rasulullah saw yang amat beliau cintai. Suatu hari ia pernah
berada disampingku, lalu ia
menggiling dengan alat penggiling
sampai alat itu menimbulkan
bekas ditangannya. Ia juga
mengambil air dengan geriba sampai alat itupun membekas
pada lehernya. Ia juga menyapu
rumah sehingga pakaiannya
penuh dengan debu. Ia pun
memasak dengan periuk sehingga
pakaiannya menjadi sangat kotor.” Diriwayatkan dari Sayyidatuna
Fathimah ra, bahwa beliau
berkata :
“Sungguh kedua tangan saya
menjadi tebal dan kasar karena
alat penggiling, kadangkala aku membuat tepung dan kadangkala
aku membuat adonan.” (HR. Ad
Daulabi, Ahmad dan Turmudzi ) Suatu ketika kaum muslimin
menang dalam peperangan dan
berhasil menawan beberapa
tawanan wanita; saat itu
Sayyidina Ali kw berkata kepada
Sayyidatuna Fathimah : “Pergilah dan mintalah seorang
tawanan wanita yang dapat
menolong pekerjaanmu dan saya
kira Nabi saw tidak akan menolak
permintaanmu karena
kedudukanmu yang dekat dengan beliau.” Maka Sayyidatuna Fathimah ra
mematuhi perintah suaminya dan
berangkat ke tempat Nabi saw.
Maka Nabi saw bertanya
kepadanya :
“Ada apa wahai putriku?” Sayyidatuna Fathimah menjawab : “Saya hanya datang untuk
mengucapkan selamat kepada
ayah.”
Beliau malu untuk meminta
sesuatu dari ayahnya sendiri; lalu
beliau kembali ke rumahnya. Ketika Sayyidina Ali kw
mengetahui keadaan ini, maka
beliau mengantar Sayyidatuna
Fathimah pergi ke tempat Nabi
saw dan mengutarakan niatnya
untuk meminta seorang tawanan wanita yang dapat membantu
pekerjaan Sayyidatuna Fathimah
di rumah, karena ia kelihatan
tidak mampu menyelesaikan
pekerjaannya sendirian. Maka
Rasulullah saw menjawab : “Tidak, Demi Allah aku tidak akan
memberi kalian, sementara aku
membiarkan Ahlus Shuffah
( orang-orang fakir yang tinggal
diserambi masjid ) dalam keadaan
perut mereka terlipat. Aku tidak mendapatkan sesuatu yang akan
kubelanjakan untuk mereka, tapi
akan menjual para tawanan itu
lalu akan kubelanjakan hasilnya
untuk Ahlus Shuffah.” Dalam riwayat lain dari sanad Abi
Umamah dari Sayyidina Ali kw,
bahwasanya Rasulullah bersabda :
“Bersabarlah engkau wahai
Fathimah! Sesungguhnya wanita
yang paling baik adalah yang bisa memberi manfaat bagi
keluarganya.” Dalam riwayat lain, Rasulullah
bersabda :
“Maukah kalian kuberitahu
mengenai sesuatu yang lebih baik
daripada sesuatu yang telah
kalian minta kepadaku? Ada beberapa kalimat yang diajarkan
kepadaku oleh Jibril yaitu setiap
selesai menjalankan sholat,
hendaklah kalian membaca tasbih
10x, membaca tahmid 10x serta
membaca takbir 10x. dan ketika kalian beranjak ketempat tidur,
maka hendaklah kalian membaca
tasbih 33x, membaca tahmid 33x
serta membaca takbir 33x.
(HR. Bukhari, Muslim, Turmudzi,
Nasa’i, Ahmad, Ad Darimi dan Abu Nua’im). Kepribadian Sayyidatuna Fathimah
Az-Zahra : Beliau hidup sebagai sosok wanita
yang giat dan yang teguh, suatu
kehidupan yang seluruhnya
merupakan hasil tempaan kasih
sayang serta perhatian dari dua
orang tua yang sangat mulia keturunannnya, budi pekertinya,
kebangsawanan dan nasabnya.
Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra
selalu belajar di rumah kedua
orang tuanya tentang sesuatu
yang tidak dipelajari oleh anak perempuan selainnya di kota
Makkah, yaitu berupa ayat Al-
Qur’an dan tradisi-tradisi yang
tidak mungkin orang-orang
sekitar mereka menanggungnya,
baik mereka yang ahli ibadah ataupun yang lainnya. Disamping itu, Sayyidatuna
Fathimah Az-Zahra juga
mempelajari apa saja yang
dipelajari oleh anak-anak
perempuan yang lain. Maka
tidaklah heran bila beliau pernah membalut luka-luka ayahnya
ketika perang Uhud, dan beliau
melakukan sendiri pekerjaan-
pekerjaan rumahnya serta beliau
tidak pernah dibantu oleh
seorang wanitapun di dalam sebagian besar masa hidupnya. Beliau tumbuh dewasa dan
berkembang di tengah rumah
tangga yang suci ini adalah
seorang wanita yang berilmu,
mempunyai keistimewaan dan
menjiwai ilmu-ilmu Al-Qur’an, makna-maknanya seta isi
kandungannya. Beliau tumbuh
dewasa dalam ketenangan,
kesederhanaan, dan perasaan
cukup beliau dengan kemuliaan
nasabnya; memiliki kemauan yang kuat, semamgat yang gigih dan
jiwa yang mulia.
Beliau menjunjung tinggi
hubungan nasab dirinya dengan
ayahnya dan merasa gembira
sekali terhadap kemiripan anak- anaknya dengan ayah beliau.
Beliau selalu menyebut-nyebut hal
ini pada waktu menimang. Fithroh keagamaan pada diri
Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra
ra, merupakan fithroh yang telah
diwarisi dari kedua orang tuanya
yang mulia. Beliau sangat hati-
hati sekali menjaga perintah agama yang telah diyakininya,
sehingga selalu waspada dan
selalu bertindak paling hati-hati
( Al-Ahwath ) didalam setiap
urusan. Beliau adalah orang yang
paling mirip ayahnya dalam gaya berjalannya, ucapan dan
pebicaraannya. Sayyidatuna
A’isyah ra berkata tentang
Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra : “Saya tidak pernah melihat
seorangpun yang gaya
berjalannya, ketenangan dan
tingkah lakunya mirip dengan
Rasulullah saw daripada Fathimah
putri Rasulullah saw pada waktu ia berdiri dan duduk.”
( HR. Turmudzi, Abu Daud dan
Nasa’i ) “Ketika Fathimah masuk ke
tempat Rasulullah saw. Maka
Rasulullah pun berdiri
menyambutnya, lalu menciumnya
kemudian mendudukkannya di
tempat duduk beliau; dan apabila Nabi saw masuk ke tempat
Fathimah ra, maka iapun berdiri
menyambut beliau, lalu mencium
beliau kemudian mempersilahkan
beliau duduk di tempat
duduknya.” ( HR. Turmudzi, Abu Daud dan
Nasa’i ) “Sayyidatuna Aisyah merasa
aneh ketika sikap Sayyidatuna
Fathimah seperti orang biasa,
pada waktu beliau melihat
Sayyidatuna Fathimah menangis
kemudian terus tertawa disisi Rasulullah saw, sewaktu beliau
sakit menjelang wafatnya.
Kemudian Sayyidatuna Aisyah
baru tahu bahwa Sayyidatuna
Fathimah menjadi tertawa karena
telah mendengar dari ayahnya bahwa ia adalah orang yang
pertama kali diantara
keluarganya yang akan menyusul
ayahnya.”
( HR. Bukhari, Muslim, Turmudzi,
Abu Daud, Ibnu Majah, Nasa’i, Ibnu Sa’ad, Hakim dll ) Kedudukan Sayyidatuna Fathimah
disisi Rasulullah saw : Rasulullah bersabda : ﺪﻘﻓ ﺎﻬﺒﻀﻏﺃ ﻦﻤﻓ ﻲّﻨﻣ ﺔﻌﻀﺑ ﺔﻤﻃﺎﻓ
ﻯﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ ) .ﻲﻨﺒﻀﻏﺃ ) “Fathimah adalah bagian darah
dagingku, barangsiapa yang
membuatnya marah maka ia telah
membuatku marah.”
( HR. Bukhari ) Diriwayatkan dari Zaid bin Arqam
bahwa ia berkata ; Rasulullah saw
pernah berkata kepada Sayyidina
Ali, Sayyidatuna Fathimah,
Sayyidina Hasan dan Sayyidina
Husein : ﺎﺳ ﻦﻤﻟ ﻢﻠﺳﻭ ﻢﺘﺑﺭﺎﺣ ﻦﻤﻟ ﺏﺮﺣ ﺎﻧﺍ
،ﻯﺬﻣ ﺮﺘﻟﺍ ،ﺪﻤﺣﺍ ﻩﺍﻭﺭ ) ﻢﺘﻤﻟ
ﻢﻛﺎﺤﻟﺍ ﻭ ﻥّﺎﺒﻫ ﻦﺑﺇ ) ”Saya memerangi orang-orang
yang kalian perangi dan saya
berdamai dengan orang-orang
yang kalian ajak berdamai.”
( HR. Ahmad, Turmudzi, Ibnu
Hibban dan Al-Hakim, serta shahih menurut Ibnu Hibban dan Al-
Hakim ) Keistimewaan Sayyidatuna
Fathimah Az-Zahra : ﻞﻤﻜﻳ ﻢﻟﻭ ﺍﺮﻴﺜﻛ ﻝﺎﺟّﺮﻟﺍ ﻦﻣ ﻞﻤﻛ
ﻥﺍﺮﻤﻋ ﺖﻨﺑ ﻢﻳﺮﻣ ّﻻﺇ ﺀﺎﺴّﻨﻟﺍ ﻦﻣ
ﺔﺠﻳﺪﺧ ﻭ ﻥﻮﻋﺮﻓ ﺓﺃﺮﻣﺍ ﺔﻴﺳﺁﻭ
ﻭ ﺪّﻤﺤﻣ ﺖﻨﺑ ﺔﻤﻃ ﺎﻓ ﻭ ﺪﻠﻳﻮﺧ ﺖﻨﺑ
ﻞﻀﻔﻛ ﺀﺂﺴّﻨﻟﺍ ﻰﻠﻋ ﺔﺴﺋﺎﻋ ﻞﻀﻓ
.ﻡﺎﻌﻄﻟﺍ ﺮﺋﺎﺳ ﻰﻠﻋ ﺪﻳﺮﺜﻟﺍ ﻢﻠﺴﻣ ﻭ ﻯﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ ) ) “Banyak dari kaum lelaki ( para
hamba Allah swt ) yang
sempurna, dan tidak ada dari
kalangan kaum perempuan
( hamba Allah swt ) yang
sempurna kecuali Maryam putri ‘Imran, Asiyah istri Fira’un,
Khadijah puteri Khuwailid dan
Fathimah putri Muhammad,
sedangkan keistimewaan ‘Aisyah
dibandingkan dengan perempuan
lain ( dari para hamba Allah swt ) adalah seperti keistimewaan
tsarid ( roti yang diremuk dalam
kuah ) melebihi seluruh makanan
lainnya.” ( HR. Bukhari - Muslim ) : ﻊﺑﺭﺍ ﻦﻴﻤﻟﺎﻌﻟﺍ ﺀﺎﺴﻧ ﻦﻣ ﻚﺒﺴﺣ
ﺖﻨﺑ ﺔﺠﻳﺪﺧﻭ ﻥﺍﺮﻤﻋ ﺖﻨﺑ ﻢﻳﺮﻣ
ﺔﻴﺳﺁﻭ ﺪﻤﺤﻣ ﺖﻨﺑ ﺔﻤﻃﺎﻓﻭ ﺪﻠﻳﻮﺧ
.ﻥﻮﻋﺮﻔﻟﺍ ﺓﺃﺮﻣﺍ
ﻭ ﺪﻤﺣﺍ ,ﻢﻛﺎﺣ,ﻯﺬﻣﺮﺘﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ )
ﻥﺎﺒﻫ ﻦﺑﺍ ) “Cukup untuk kamu ketahui
bahwa diantara wanita sealam
semesta ( yang paling mulia ) ada
empat orang yaitu Maryam puteri
Imran, Khadijah puteri Khuwailid,
Fathimah puteri Muhammad dan Asiyah istri Fir’aun.”
( HR. Turmudzi, Hakim, Ahmad dan
ibnu Hibban ) ﻰﻧﻮﻜﺗ ﻥﺍ ﻦﻴﺿﺮﺗ ﺎّﻣﺃ ﺔﻤﻃﺎﻓﺎﻳ
ﺓﺪّﻴﺳ ﻭﺍ ﻦﻴﻨﻣﺆﻤﻟﺍ ﺀﺂﺴﻧ ﺓﺪّﻴﺳ
.ﺖﻳﺃﺭ ﻯﺬﻟﺍ ﺖﻜﺤﻀﻓ ,ﺔﻣﻷﺍ ﻩﺬﻫ
ﻪﻴﻠﻋ ﻖﻔّﺘﻣ ) ) “Wahai Fathimah tidakkah
engkau senang menjadi junjungan
para wanita orang-orang mukmin
atau junjungan para wanita umat
ini.”
( HR. Bukhari, Muslim, dll ) ﻭ ﺔﺠﻳﺪﺧ ﺔّﻨﺠﻟﺍ ﻞﻫﺍ ﺀﺎﺴﻧ ﻞﻀﻓﺍ
ﻢﻛﺎﺤﻟﺍ ﻭ ﺪﻤﺣﺍ ﻩﺍﻭﺭ ) .ﺔﻤﻃﺎﻓ ) “Wanita penduduk surga yang
paling utama adalah Khadijah dan
Fathimah.”
( HR. Ahmad dan Al Hakim ) ﻞﻫﺍ ّﺐﺣﺍ ﺀﺍﺮﻫّﺰﻟﺍ ﺔﻤﻃﺎﻓ ﻥﺍ
ﺪﻤﺣﺍ ﻩﺍﻭﺭ ) .ّﻲﻟﺇ ﻰﺘﻴﺑ ) “Sesungguhnya Fathimah Az-
Zahra adalah Ahli Baitku yang
paling kucintai.”
( HR. Imam Ahmad ) Diantara keistimewaan
Sayyidatuna Fathimah ra adalah
sesungguhnya Allah swt telah
melestarikan anak cucu Nabi saw
lewat anak cucu Fathimah dan
melanggengkan keturunan Raulullah saw lewat keturunan
Sayyidatuna Fathimah ra. Karena
hanya Sayyidatuna Fathimah
satu-satunya diantara putra-
putri Nabi saw yang menjadi ibu
bagi keturunan Ahli Bait. Anak- anak Nabi saw yang laki-laki tidak
ada yang berumur panjang.
Putra-putra beliau yang bernama
Qasim, Abdullah dan Ibrahim telah
meninggal dunia saat mereka
masih anak-anak. Adapun putri- putri Nabi saw adalah empat
orang yaitu Zainab, Ruqaiyah,
Ummu Kultsum dan Fathimah Az-
Zahra. Semua putri Nabi saw
terputus keturunannya; kecuali
keturunan Sayyidatuna Az-Zahra Al-Batul. Allah swt telah memberi
karunia kepada Sayyidatuna Az-
Zahra ra berupa dua orang putra
yaitu Sayyidina Hasan dan Husein
dan seorang putri yaitu
Sayyidatuna Zainab ra; dan hanya dari kedua putranya
( Sayyidina Hasan dan Husein )
cucu Rasulullah saw asal-usul
seluruh para Ahli Bait yang mulya. Wafatnya Sayyidatuna Fathimah
Az-Zahra Al-Batul : Ketika menjelang wafatnya, beliau
berkata kepada Asma binti Amis :
“Tidakkah engkau lihat, sudah
seberapa parah sakitku ini, maka
janganlah engkau akan
mengusungku di atas keranda yang terbuka.”
Dalam riwayat lain dari Abdullah
bin Buraidah menyebutkan bahwa
Sayyidatuna Fathimah ra, telah
berkata kepada Asma’ :
“Sesungguhnya saya sangat malu bila keluar dalam keadaan
terbungkus, diusung oleh para
lelaki, sedangkan ditengah-
tengah bungkus itu terdapat
tubuh saya.” Dalam riwayat Ummi Ja’far
menyebutkan, bahwa
Sayyidatuna Fathimah berkata :
“Sesungguhnya saya
menganggap jelek sekali
perlakuan yang diperuntukkan kepada para wanita yang
( jenazahnya ) dikenakan pakaian
( diberi kafan ) lalu pakaian itu
memperlihatkan bentuk
tubuhnya.”
Maka Asma’ berkata kepada beliau :
“tidak… sungguh demi hidupku
wahai puteri Rasulullah saw..
namun aku akan membikin
keranda ( yang tertutup rapat )
sebagaimana yang pernah engkau lihat itu dilakukan di Habasyah.”
Sayyidatuna Fathimah berkata :
“Coba hal itu perlihatkan
kepadaku.”
Maka Asma’ mengambil beberapa
pelepah daun kurma yang masih basah, lalu ia melengkungkan
pelepah-pelepah itu kemudian ia
jadikan keranda di atas tempat
tidur. Ketika Sayyidatuna
Fathimah melihatnya, beliau
langsung tersenyum, padahal beliau tidak pernah kelihatan
tersenyum ( sepeninggal
Rasulullah saw ). Beliau berkata
kepada Asma’ :
“Alangkah bagusnya keranda ini
dan alangkah indahnya. Dengan bentuk macam ini, maka wanita
akan bisa dibedakan dari orang
laki-laki. Mudah-mudahan Allah
swt menutupi aibmu sebagaimana
engkau telah menutupiku, dan
bilamana aku telah meninggal, maka mandikanlah bersama
dengan Ali serta jangan ada
seorangpun yang masuk ke
tempatku.” Sayyidatuna Fathimah ra wafat
pada hari selasa tanggal 3
Ramadhan tahun 11 H, dalam usia
28 tahun. Beliau dimakamkan di
Baqi’ pada malam hari. Shalat
jenazah beliau dipimpin oleh Sayyidina Ali. Dan ada yang
mengatakan dipimpin oleh
Sayyidina Abbas ra. Yang
menurunkan jenazah beliau ke
liang lahat adalah Sayyidina Abbas
ra dan Sayyidina Ali ra serta Fadhil bin Abbas. Sedangkan dalam
kitab Adz Dzurriyah Ath Thahirah
karangan Ad Daulabi
menyebutkan bahwa Sayyidatuna
Fathimah hidup setelah wafatnya
Nabi saw, selama 3 bulan. Adapun riwayat yang paling shahih adalah
riwayat Az-Zuhri dari Urwah bin
Zubair dari Aisyah bahwa beliau
berkata: “ Fathimah hidup
setelah wafatnya Rasulullah saw
selama 6 ( enam ) bulan. ( HR.Bukhari Muslim ).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar